07 September 2017

Selamat Pagi, Bumi


Selamat pagi, burung-burung
melalui cericitmu, aku terima salam dari ranting nan rimbun
sebelum batang-batang pohon ditebang untuk dibikin tisu
demi mengelap air mataku yang menetes karenamu

Selamat pagi, air mengalir
gemericikmu adalah kabar baik
bahwa batu-batu kapur masih menggunduk di balik gunung
sebelum orang-orang membongkarnya untuk tambang
demi pembangunan, demi kemajuan, tapi tidak demi engkau

Selamat pagi, matahari
cahayamu adalah kabar tentang ozon, hutan, dan hama
siklus bumi masih baik dan bahwa iklim masih terjaga
sehingga kami dapat begitu leluasa
membuang lebih banyak karbon ke udara

Apa kabar, tanah?
Uar aromamu di kala hujan pertama menyapa
adalah salam untukku: tentang lempeng bumi yang tidak berubah
tentang cacing-cacing yang berjuang menawarkan limbah
serta ketabahanmu menanggung amoniak dan sampah
sehingga kami bebas melepas hak milik untuk berpindah

Selamat pagi, manusia
engkau bekerja demi melangsungkan hidup
dan engkau hidup sekadar iseng menunggu maut

Tapi,

Mengapa engkau merusak laut?
hanya karena engkau punya teknologi untuk menangkap ikan?
namun siapa sesungguhnya yang memberi pakan?

Mengapa engkau meracuni bumi?
hanya karena engkau yang menanam demi alasan pangan?
Namun siapa sesungguhnya yang menumbuhkan?


23/08/2017 


08 April 2017

Percakapan Agung


Di suatu malam, dua orang sedang duduk bercakap-cakap. Di atas sana, di langit, bintang-bintang berkedip-kedip. Keduanya dapat saling menatap satu sama lainnya karena adanya cahaya temaram yang lebih dekat ke muka mereka, cahaya yang bersumber dari lampu di sekitarnya.

“Ayah, seberapa jauhkah bintang di langit sebelah utara itu?”
“Oh, jauh sekali, Nak, sejauh nikmat tanpa syukur, sejauh iman dari kufur.”

“Benarkah satu atau dua bintang yang bersinar itu sesungguhnya telah tiada?”
“Boleh jadi begitu, cahaya bintang yang kita lihat di malam ini sudah tak ada lagi, seperti sisa air di tanah saat hujan mereda: hujannya berhenti, genangannya tersisa. Begitu pula, cahayanya berjalan entah berapa ratus tahun cahaya ke mari dan malam ini baru tiba di sini.”

“Bagaimana bisa begitu?”
“Iya, Nak. Bintang pun punya usia, meledak, menjadi supernova, sebuah akhir kehidupan yang mempesona. Untuk itu, kita pun harus melihatnya dengan mata bantuan, mata buatan. Engkau tahu bagaimana akhir hidup seorang aulia? Ia menyisakan kemilau cahaya setelah tiada. Begitulah kiranya. Yang terlalu jauh dan terlalu dekat memang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sebagaimana kita juga tidak mampu melihat yang terlalu kecil maupun yang terlampau besar.”

“Namun, mengapa bintang-bintang itu ada di atas sana, Ayah?”
“Salah satunya adalah hiasan pikiran, Nak, untuk memberi kesempatan bagi manusia supaya berpikir dan belajar, betapa ciptaan itu sungguh luar biasa besar.”

“Lalu, apakah kita harus merenungkan ciptaan sarwa ini; tatasurya, galaksi, bimasakti?”
“Itulah kewajiban kita, Nak. Dalam sehari-semalam, kita wajib meluangkan waktu untuk tafakur, memikirkan hal-hal yang terjadi di luar kita atau di dalam diri kita, merenungkan aliran darah yang mengalir di dalam tubuh; pikiran duniawi yang wadag dan tak pernah tersentuh; ranah ukhrawi yang luhur dan tak pernah direngkuh.”

“Pabila untuk menakjubinya kita harus berpikir, namun mengapa Ayah menyuruhku selalu berzikir?”
“Sebab dzikir menyembuhkan kesombongan. Dan puncak kesombongan manusia itu adalah ketika menilai amal ibadah orang lain dengan hanya yang tampak di matanya, padahal ia adalah perbuatan hati. Adapun jika ia tampak mewujud dalam jasmani, itu hanyalah dampak getaran semata ruhani. Tanpa zikir, pikirmu jadi pekir. Kau tak kan pernah mencerap manis di dalam getir, tak akan pernah menemukan tenang di dalam batin.”

“Terima kasih, Ayah. Sekarang, aku ingin pergi tidur dan menuliskan percakapan ini di buku harianku.”

“Baiklah, Nak. Jangan lupa, tuliskanlah ‘percakapan hal-hal agung di langit oleh dua anak manusia yang tidak pernah beranjak dari muka bumi’ sebagai judulnya.”

14 November 2016

Menemani Tidur


Di ubun-ubunmu, kubacakan Shalawat Ibrahimiyah 
saat engkau lelap dan aku menemanimu

Aku tidak pernah tidur, Nak, tidak pernah
jika kaulihat mataku berpejam, itu hanya tipuan
supaya engkau segera tidur lalu lupa: 
pada sepatu roda yang tak terbeli;
pergi ke pasar malam yang tak jadi-jadi

Kusamarkan sedihku dengan tertawa, Nak
supaya engkau tidak paham getirnya hidup 
di saat engkau baru belajar mencecap manisnya

Di ubun-ubunmu, kutiupkan doa
seiring getar-getar sebutan Asma Agung 
yang tiada tasbih pun mampu menghitung

Bagaimana mungkin aku akan menjelaskan ini padamu 
menjalani hidup begini rupa 
sedangkan engkau tidak pernah menjadi diriku? 
Ya! Kamu hanya melihat aku menjalaninya, 
tetapi tidak pernah benar-benar menjalaninya sebagai diriku

Tempuh usia sampai kelak engkau dewasa
hingga pada saat itulah engkau akan tahu 
betapa ciptaan agung bernama manusia 
begitu rumit dan sukar dipahami
ketika engkau berhadapan dengan anak dan cucu
seperti aku menghadapimu dahulu

Tidurlah, Nak, biar aku menjagamu
supaya kelak engkau dapat senantiasa terjaga
di saat aku tidur panjang dan engkau berkirim doa

3/11/2016