03 Februari 2018

Masjid Jami' Bluluk (Abdul Wachid BS)


kau selalu ingat sebuah masjid di masa kecil yang
setiap adzan memanggil dari puncaknya
terbuat dari genuk, tiada orang mengangguk
orangorang bersitahan di ladang, di hutan, di punuk

sapisapi, terus memamahbiak, tanpa koma
tukang ojek ngakak di prapatan, suaranya menggema
ke balik hutan, kau berlari menuju satunya masjid itu
seorang pria tua dengan wajah wudlu, telah menunggu

seorang bapak yang
mengadzankan khayalash shalaa .....
kepada setiap telinga hati
seorang simbah yang
menyerukan khayalal falaa .....
kepada segenap hati, lisan, perbuatan

bila ada satu dua pria lain
hadir untuk berjama’ah
itu pun keduanya orang yang telah tua
tersebab, berangkat ke masjid

hanyalah bagi orangorang yang
telah tua, sudah dekat dengan keranda
begitulah seloroh orang yang
bertahan di pasar: kau masih ingat

sebuah masjid di masa kecil yang
setiap adzan memanggil dari puncaknya
terbuat dari genuk, tiada orang mengangguk
orangorang bersitahan di silang jalan, entah .....

sampai kapan, kau kembali menuju masjid itu
seorang pria tua dengan wajah wudlu, menunggu rindu
di shaf terdepan, kau berusaha selalu menuju
ke shaf itu, sembari melewati empat tiang yang

terbuat dari kayu jati, menghayati
sejati hidup dalam cinta yang sederhana, sedari
adzan, shalawatan, iqamat, hingga shalatnya
meluas sapa kepada setiap tetangga

dalam kasihsayang , setiap orang yang
lalulalang, di sebuah desa
yang bluluknya tidak sempat menjelma
menjadi kelapa

yogyakarta, 21 agustus 2017

***

Puisi ini, “Masjid Jami’ Bluluk”, merupakan puisi nostalgia sang penyair Abdul Wachid BS saat mengenang masa mudanya. Barangkali, di suatu momen, di masa kini, penyair mengalami deja vu, atau mungkin mengalami suatu momen puitik yang nyaris sama dengan sewaktu ia mengalaminya dulu, ketika masih kecil dan tinggal di desa kelahirannya. Berikut ulasan saya dengan pola #tafsirpuisimanasuka.


MASJID JAMI’ BLULUK (arti asal bluluk adalah buah kelapa yang masih kecil dan gagal menjadi buah; tetapi  di sini digunakan sebagai nama daerah. Masjid jamik adalah istilah untuk masjid yang digunakan bersama, masjid kampung/desa, dan biasanya dibina’ [digunakan] sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat)

kau (disampaikan kepada orang/pembaca yang dalam pengandaian penyair dianggap tahu atau mengenal memori yang terjadi di Masjid Jamik Bluluk itu) selalu ingat sebuah masjid (yang ketika itu ia menjadi bagian penting) di masa kecil (kamu/kita. Itulah masjid yang)
setiap adzan memanggil dari puncaknya (dari kubah atau dari tempat pengeras suara yang digambarkan berada di dekat kubahnya yang tidak terbikin dari seng atau cor sebagaimana umumnya, melainkan)
terbuat dari genuk (gentong kecil untuk menyimpan gabah atau beras; memang terkadang dipakai sebagai ganti kubah di beberapa masjid kuno, model lama),
tiada orang mengangguk (tidak ada respon dari masyarakat sekitar. Artinya, mereka tidak juga berangkat ke masjid untuk shalat meskipun sudah ada panggilan azan. Terus? Orang-orang di sekitar masjid itu pada ngapain?)
orangorang bersitahan (bergeming; tetap berada) di ladang, di hutan, di punuk (mengapa punuk? Saya ragu. Barangkali, kepentingan penyair terhadap kata ini adalah unsur kesamaan rima dengan “genuk”, meskipun tidak seimbang dengan latar tempat; ladang dan hutan. Barangkali pula, punuk dimaksud adalah tempat menopangkan beban pikulan. Artinya, orang-orang tetap memikul beban tanpa mempedulikan meskipun ada panggilan adzan, karena hal demikianlah yang dilukiskan penyair pada baik berikutnya, yakni perihal ketidakpedulian).

sapisapi, terus memamahbiak, tanpa koma (gambaran pemandangan yang biasa, tentang pemandangan keseharian yang berjalan wajar dan lazim belaka, begitu pula seperti pemandangan)
tukang ojek ngakak di prapatan (sama juga pemandangan yang biasa), suaranya menggema
ke balik hutan (penyangatan, gambaran ketidakpedulian yang dilebih-lebihkan), kau berlari menuju satunya masjid itu (makna daripada “satunya masjid” adalah satu-satunya masjid yang ada di situ, yang Anda kita pergi ke sana, kita akan menjumpai)
seorang pria tua dengan wajah wudlu (seorang pria tua yang berwajah cerah berseri karena pancaran air wudu. Dijelaskan dalam hadis bahwa orang yang senantiasa dawam berwudu, kelak, mukanya akan bercahaya, sebagaimana anggota-anggota tubuh lain yang pernah dialiri air wudu. Sebab itu, sebagian masyarakat ada juga meyakini, muka orang muslim tetapi tidak pernah [jarang] terkena air wudu [jarang shalat] pun telah menampakkan pertandan selagi di dunia, yakni ‘somok’ [istilah dalam Basa Madura yang artinya wajah yang auranya muram, tidak bercahaya]. Ada pun orang tua—yang digambarkan oleh penyair—yang selalu ada di dalam masjid itu adalah lelaki tua yang mukanya bercahaya karena mungkin ia mengamalkan dawam wudu atau rajin berjemaah di sana, dan saat itu dia) telah menunggu

Adalah gambaran umum pada beberapa masjid desa, di mana muazin selalu diperankan oleh orang-orang tua [sepuh] atau sebaliknya, anak-anak. Para remajanya entah ada di mana.

Tetapi, di desa-desa, terutama di pelosok Jawa, tukang azannya itu-itu saja. Biasanya orang tua seperti tergambar pada bait di atas. Lagunya pun terkadang telah berasimilasi, bahkan sama sekali berasa Jawa, seperti yang pernah saya temukan di Ponorogo, di sebuah masjid dekat rumah Pak Sutejo. Suaranya yang menggeletar karean pita suaranya telah renta, lagunya pun mirip seorang yang sedang ‘nembang’. Pria itulah yang sedang menunggu  kedatangan para jamaah yang akan naik ke masjid untuk shalat berjemaah. Lelaki itu adalah...

seorang bapak yang
mengadzankan khayalash shalaa ..... (ini bukan salah tulis. Penyair hanya menggambarkan kenyataan, terkadang yang gigih pergi ke masjid itu justru orang yang secara bacaan dan apalagi tajiwidnya tidaklah fasih, semisal mengucapkan “hayya alas shalaah” malah menjadi “khayalash shalaa”. Namun, ia menyerukannya) 
kepada setiap telinga hati (menggambarkan hati sebagai pusat memori manusia juga memiliki indra pendengaran, ‘telinga’, yang dapat bekerja ganda: mendengar sekaligus merasakan. Lelaki renta itu adalah)
seorang simbah yang
menyerukan khayalal falaa ..... (lagi-lagu sama dengan yang sebelumnya, tidak fasih, tetapi bersemangat untuk menyerukan ajakan shalat)
kepada segenap hati, lisan, perbuatan

Di Ponorogo, di masjid dekat kediaman Bapak Sutejo SSC, suara muazinnya menggeletar karena berusia lanjut. Beberapa kali saya mendengarkan langgam azannya malah mirip orang lagi nembang [jika saya tidak salah dengar/menilai]. Di Madura pun, beberapa kali saya mendengar hal serupa di sebagian tempat, suara dan langgam muazin yang berlanggam ‘macapat’. Di mana para muazin remaja yang bersuara lantang dan merdu? Padahal, azan adalah ajakan yang karenanya muazin dianggap bagian dari ‘kunci’ ajakan tersebut. Ulama ada juga yang tidak menganggap baik jika azan dikumandangkan dengan terlalu banyak langgamnya [diantaranya dikhawatirkan mengundang sifat sum’ah].

Konon, di beberapa masjid di Turki, ‘maqamat’ [lagu] azan disesuaikan dengan perubahan waktu shalat wajib lima waktu [maktubah]. Dari rangkuman data yang saya himpun, rinciannya adalah sebagai berikut;
  • 1.      Subuh menggunakan maqam Shaba yang bernuansa gembira. Dalam esainya yang panjang tentang musik, “Al-Musiqa”, Kahlil Gibran melukiskan maqam ini laksana semilir angin pagi yang melintas, yang menggerakkan bunga-bunga di taman dalam ketakjuban;
  • 2.      Duhur menggunakan maqam Hijaz
  • 3.      Ashar menggunakan maqam Rast [seperti azan TVRI, biasanya dibawakan oleh Syaikh Mahmud Khalil Husari]. Gibran melukiskan maqam lagu ini laksana perpaduan antara langgam Nahawand yang berkesan dan Shaba yang menggembirakan.
  • 4.      Magrib menggunakan Sika [sedikit cepat]; termasuk langgam yang terkadang diadaptasi ke dalam musik diatonis
  • 5.      Isya menggunakan maqam Husaini [lambat dan melenggok]; maqam ini spesifik, tidak secara luas dikenal dalam tradisi ‘maqamat’ perlaguan Arab


Dari sini, barangkali dapat dijadikan pijakan untuk penelitian tingkat lanjut, seberapa jauh dan penting kesesuaian maqam lagu yang diterapkan untuk azan dalam hal memberikan pengaruh secara psikologis terhadap batin orang yang mendengarnya.


bila ada satu dua pria lain
hadir untuk berjama’ah (jika ada orang lain—di luar tokoh yang disampaikan si penyair sebelumnya—yang akan ikut berjemaah di masjid)
itu pun keduanya orang yang telah tua (sebagaimana mudah ditemukan di tempat lain, anak mudanya justru lebih jarang yang hadir meskipun mereka lebih bugar secara tenaga. Hal ini, salah satunya, barangkali disesuaikan dengan lelucon yang kerap jadi ledekan di dalam masyarakat)
tersebab (yang biasa dijadikan contoh kasus, tindakan atau amal), berangkat ke masjid

hanyalah (pekerjaan yang cocok) bagi orangorang yang
telah tua (yaitu mereka yang), sudah dekat dengan keranda (ungkapan ‘gojekan’ yang ditujukan kepada kaum manula dan sangat sepuh)
begitulah seloroh orang yang
bertahan di pasar: kau masih ingat (dan seloroh semacam ini terdengar di sembarang tempat, seloroh yang menyiratkan bahwa kaum muda seolah-olah tidak perlu datang ke masjid, cukup keluyuran saja, sebab yang layak ke masjid adalah kaum tuanya. Yang muda sibuk bercinta dan melayani syahwat sedangkan yang tua sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa mati)

Memang betul, pemandangan seperti ini mudah dijumpai di banyak tempat, tetapi kejadian yang dilukiskan di dalam puisi ini terjadi di suatu tempat, di...

sebuah masjid di masa kecil yang
setiap adzan memanggil dari puncaknya (yaitu menara tempat melantunkan azan atau kubah kecil yang)
terbuat dari genuk (Akan tetapi, panggilan itu membentur tembok, karena), tiada orang mengangguk (untuk menjawab panggilan azan dengan cara berangkat menuju masjid untuk shalat, malahan)
orangorang bersitahan di silang jalan, entah ..... (mereka mendenar suara azan itu, tetapi tidak memenuhi panggilannya, tidak tergerak untuk melaksanakan shalat, apalagi hadir ke masjid tersebut demi menunaikan shalat berjamaah. Mereka begitu sibuk sehingga masih keleleran di simpang-simpang jalan, di entah mana-mana tempat).

Pada bait berikut, penyair lantas mengajukan sebuah pertanyan yang sulit dijawab, pertanyaan yang mungkin memang tidak perlu dijawab karena yang diharapkan penyair adalah renungan untuk mempertimbangkan keadaan diri-sendiri adresser [orang yang ditanya]:

sampai kapan, kau kembali menuju masjid itu (Masjid Jamik Bluluk itu? Di sana, ada)
seorang pria tua dengan wajah wudlu (yaitu orang yang dijelaskan di atas, orang yang dawam wudu), menunggu (para hadirin dengan penuh) rindu
di shaf terdepan, kau berusaha selalu menuju
ke shaf itu (Tersurat dalam banyak kitab yang mengutip hadis tentang fadilah shalat berjamaah; akan keutamaan duapuluh tujuh derajat. Jumlah ini tidak sama, melainkan lebih utama, bahkan andaipun seseorang melakukan shalat hingga 27 X untuk mengimbanginya sebagaimana dijelaskan dalam sebuah mimpi seorang sahabat Nabi yang karena ketika itu dia tidak nututi bermakmum kepada Nabi, maka dia menyesal lalu mengulang shalatnya sebanyak 27 X salam. Namun, dalam mimpi itu dia mendapatkan isyarat bahwa apa yang dilakukannya itu masih kalah derajat dengan shalat berjamaah meskipun satu salam saja.
Shaf terdepan, oleh beberapa pendapat, dianggap sebagai asal mula sebutan untuk kelompok “sufi”, di samping pendapat lainnya tentu. Ada anjuran agar kita ‘berebut’ tempat terdepan itu—dan seperti juga yang terjadi di bangku-bangku bis yang sering dijadikan tempat perburuan penumpang. Namun, yang juga sering dilupakan adalah ‘adab’ yang tetap harus dijunjung dalam perburuan tempat itu, tidak boleh berlaku ‘serampangan’ kepada hadirin lainnya, seperti mengangkangi orang yang sedang duduk iktikaf, sedang shalat sunnah, sedang berzikir, dlsb. Oleh karena itu, penyair menggambarkan laku terpuji lelaki berwajah wudu itu dengan larik-larik berikut): sembari melewati empat tiang yang

terbuat dari kayu jati (sekadar ungkapan dan penggambaran interior masjid; masjid yang tua, karena masjid yang baru rata-rata menggunakan tiang cor), menghayati
sejati hidup dalam cinta yang sederhana, sedari
adzan, shalawatan, iqamat (gambaran keadaan bahwa lelaki itu telah berada lama di masjid sebelum shalat jamaah didirikan, yang artinya telah iktikaf di sana. Sikap dan sifat istikamah seperti ini benar-benar akan membuat dampak yang baik bagi shalatnya, semacam indikator untuk ‘kesahihan’ amaliahnya [semacam ‘ruh al-qabul’], semacam isyarat diterimanya amalan di dunia karena ganjarannya yang utuh akan diberikan kelak, di Yaum al Hisab), hingga shalatnya
meluas sapa kepada setiap tetangga

dalam kasihsayang, setiap orang yang
lalulalang, di sebuah desa
yang bluluknya (kata ganti “nya” di sini tampak ambigu, seolah merujuk kepada frase “setiap orang” dan/atau kepada “sebuah desa”. Agaknya, ia akan lebih pas jika dirujuk kepada yang nomor dua, atau malah bersama-sama. Yang dikehendaki penyair, intinya, adalah semacam “ketidakberhasilan” yang digambarkannya ke dalam ungkapan “bluluk yang)
tidak sempat menjelma
menjadi kelapa

(Kalimat penutup pada bait terakhir ini menunjukkan proses kembang yang untuk pertama kalinya menjadi calon buah dalam bentuk bluluk. Adapun “proses menjadi” selanjutnya adalah proses menjadi cengkir, lalu degan, lalu kelapa. Artinya, bluluk punya identik ‘kejatuhan’, terlepas dari tangkai sehingga gagal menjadi cengkir dan seterusnya, apalagi menjadi kelapa. Inilah ibarat yang dituju, bagaimana sebuah masjid yang dibangun puluhan tahun silam ternyata hadirinnya masih tetap orang-orang itu saja sampai sekarang. Ironisnya, ia berada di desa atau di wilayah yang pemeluk agama Islamnya sangat banyak, tetapi masyarakatnya enggan untuk mendirikan shalat [jamaah] di sana)

Wallahu a’lam

M. Faizi 

15 Januari 2018

Pohon Shahabi (Nana Ernawati)



Aku jatuh cinta pada daun, ribuan rumpun memujamu.
Ranting-ranting yang kokoh terus mecintaimu walau
kau telah pergi sejauh-jauh semua bisa berangan.
Padang pasir Buqa’awiyya, titip bukti cintaku ini

Aku jatuh cinta pada air, puluhan samudra menggamit
penuh rindu, juga padamu. Aku jatuh cinta pada langit,
awan, Bimasakti, dan segala gugusan milyar galaksi,
jutaan salam terkirim. Selawat panjang menujumu selalu.

Kukirim tangis dukaku lewat waktu, masihkah kau akan
mendengarku setelah berkali-kali kukhianati.

Jakarta, 0215/new


Secara umum, puisi ini merupakan gambaran tawasul (baca: tawassul) kepada Rasul, yaitu suatu tindak perantara mendekatkan dua-di-antara: diri & Rasul. Jika lazim dipahami bahwa tawasul adalah mendekat diri kepada Allah melalui Nabi terkasih, maka puisi ini mendekat kepada Rasul melalui sesuatu yang mencintai Rasul. Contoh: jika sang kekasih mencintai anak yatim, maka ia juga akan mencintai anak yatim sebagai bentuk wujud cintanya kepada sang kekasih. Bukan berarti ia tidak mencintai kekasih secara langsung, melainkan ini bentuk ekspresi yang lain dalam hal cara mencintai. Hal ini kiranya lazim dan kaprah dalam kehidupan sehari-hari. Itulah gambaran umum dalam #tafsirpuisimanasuka kali ini untuk puisi “Pohon Shahabi” yang diambil dari buku “Perempuan yang Melukis di Atas Air” (Lembaga Seni & Sastra ‘Reboeng’/Elamtera, 2015), karya Nana Ernawati.

* * *


POHON SHAHABI

Aku jatuh cinta pada daun (jatuh cinta di sini tidak dimaksudkan dengan cinta syahwati yang penuh nafsu, melainkan sebentuk sukacita namun dalam derajat yang berbeda. Mengapa cinta kepada daun? Karena daun-daun mencintai Sang Rasul. Kesimpulan ini lahir setelah saya melalukan pembacaan utuh atas puisi secara menyeluruh, hingga di akhir baris. Mengenai “cinta daun kepada Rasul” ini dikisahkan di dalam lektur-lektur Islam, seperti dikisahkan bahwa pada malam kelahiran Baginda Nabi, tetumbuhan pun khidmat dan tenang dalam menyambutnya. Sekurang-kurangnya, itulah yang dilukiskan penyair pada bait selanjutnya, yaitu), ribuan rumpun memujamu.
Ranting-ranting yang kokoh terus mecintaimu (ranting pun, tempat daun tumbuh, juga mencintainya, maka wajar jika cinta sang penyair menggunakan ‘tawasul’ (perantara), yakni mencintai Baginda Nabi melalui cintanya kepada daun yang tumbuh di ranting yang juga mencitai Sang Nabi. Dalam gambaran yang lain, seperti di dalam kitab Taklim Mutaallim, salah satu cara mencintai ilmu adalah dengan mencintai ahli ilmu, seperti guru, keluarga guru, majlis ilmu, serta segala hal yang berhubungan dengan ilmu dan guru. Begitu pula, menghormati dan mencintai Nabi itu, salah satunya, dapat diejawantahkan dengan mencintai zurriyah (keturunan)-nya juga semua orang yang mencintai Nabi saw.) walau (walaupun/meskipun)
kau telah pergi sejauh-jauh semua bisa berangan (“pergi sejauh-jauh” adalah penggambaran  “ruang” meskipun yang dikehendaki penyair adalah tentang “waktu”. Yang dimaksud “jauh” di sini adalah masa antara ‘engkau’ (Rasul) dengan ‘aku’ (penyair) yang terpaut begitu lama, berabad-abad. Penyair mengesankannya seakan-akan dengan sudut pandang “ruang” karena penyair melakukan relfleksinya—kemungkinan besar—di lokasi tempat Sang Nabi dilahirkan. Demikianlah reminiscence itu terjadi dan bekerja di dalam perasaan penyair, yaitu dengan cara menahbiskan cintanya di)
Padang pasir Buqa’awiyya, titip bukti cintaku ini.

Aku jatuh cinta pada air (tafsir sama seperti di atas), puluhan samudra menggamit
penuh rindu (penyangatan [over-statement] untuk mendapatkan kesan kuat hubungan antara “air” dan “samudra”), juga padamu (yakni bahwa jika samudra menggamit padanya dengan penuh kerinduan, maka selayaknya jika si-aku-penyair mencintai dirinya melalui “air” yang juga pada akhirnya akan mengarah ke samudra. Sebetulnya, Konsep “setetes air sama dengan samudra” atau “samudra adalah setetes air” dapat juga ditemukan dalam beberapa pandangan penyair, seperti pada rubaiyat ke-14 karya Umar Al-Khayyam (versi terjemahan Ahmad Ramy [Mesir]) dan juga di dalam beberapa puisi Gibran Khalil Gibran, seperti—di antaranya—pada baris ke-16 di dalam puisi “Ma Dza Taqul as-Saqiyah” yang ada di dalam antologi “Al-Bada’i’ wa at-Thara’if”). Aku jatuh cinta pada langit,
awan, Bimasakti, dan segala gugusan milyar galaksi,
jutaan salam terkirim (cinta dengan alur tawasul semakin jelas pada bagian ini. Penyair menyusun secara urut dari daun, air, dan langit. Akan tetapi, mengapa hanya tiga item tersebut yang dijadikan media? Kemungkinannya berkaitan dengan lokasi ketika puisi ditulis, yaitu di tanah tandus (semacam padang pasir), di mana daun dan air menjadi sangat penting dibicarakan, juga langitnya yang pastinya akan lebih cerah karena terbebas dari polusi udara di siang hari atau polusi cahaya di malam hari. Referensi eksternal yang dapat dijadikan rujukan dari bagian ini adalah karya Imam Abdurrahman Ad-Dayba’i [bagian prosa liriknya]. Di dalam narasi Ad-Dayba’i tersebut, dilukiskan pertanda-pertanda alam pada saat menjelang kelahiran Nabi Muhamad, seperti ungkapan... “dan langit dipenuhi warna-warni, seiring para malaikat yang bertahlil, bertahmid, dan memuliakannya karena sukacita...”. Demikianlah gambaran yang hendak dilukiskan oleh penyair yang diwujudkannya dalam bentuk) Selawat panjang menujumu selalu.

Kukirim tangis dukaku lewat waktu (bagaimana mungkin jika tadi, di bagian awal, penyair berbicara cinta tetapi lalu ada tangisan di akhirnya? Tangisan di sini adalah tangis penyesalan yang sejatinya juga merupakan bagian dari rasa cinta. Maka dari itu, penyair mengajukan pertanyaan retoris yang senyatanya ia sendiri sudah mengetahui jawabannya. Atau, sekurang-kurangnya, penyair dapat mengharapkan sesuatu dari yang ditanyakannya) masihkah kau akan
mendengarku setelah berkali-kali kukhianati (menyadari ia telah melupakan banyak hal terhadap sang kekasih, namun kini, setidaknya di tempat itu, di tempat puisi ditulis, penyair mengakui dengan cara membuat pengakuan akan rasa cintanya, rasa cinta yang bercampur malu: menyatakan cinta tetapi tak terhitung kali ia berkhianat, seperti melanggar perintah sang kekasih sembari menyatakan cinta kepada sang kekasih. Semua orang maklum, betapa besar cinta sang Nabi kepada umatnya. Inilah yang juga disadari oleh si penyair, sebagaimana ia juga sadar dan tahu, apa saja syarat taubat sang pengkhianat, salah satunya adalah bertaubat dari keraguan di dalam cinta).

Wallahu a’lam.
M. Faizi (admin, penafsir)





13 Januari 2018

Pada Sebuah Acara Turun Tanah (Iman Budhi Santosa)


Setelah waktunya sampai, engkau akan dilepaskan
Dari pelukan diturunkan dari pangkuan
Serupa benih yang ditabur di persemaian
Sebelum tumbuh sendiri pada sebuah pilihan

Hari ini engkau belajar duduk dan berdiri
Menapakkan kaki, meraih mainan
Dengan tangan kanan untuk memiliki
Dirusak, dan dimengerti

Maka, mereka pun bersorak ketika pensil buku
Menggantikan air susu ibu, tak ada tangis
Ketika jatuh menerobos kurungan ayam
Seperti paham langkahmu bakal menuju ke depan

Keluarlah anakku, dari kurungan demi kurungan itu
Berbekal azimat di tanganmu, ada kiblat
Bakal menunjukkan tempat
Di mana seharusnya engkau berguru

2010

Puisi ini diambil dari buku “Ziarah Tanah Jawa”, karya Iman Budhi Santosa (Interlude, 2015). Nama beliau dulu dikenal bersama Ragil Suwarna Pragolapati dan Umbu Landu Paranggi saat membidani Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas seni/sastra yang mangkal di Malioboro dan banyak melahirkan sastrawan-seniman.

PADA SEBUAH UPACARA TURUN TANAH

Setelah waktunya sampai, engkau akan dilepaskan (waktu sampai adalah masa kemandirian atau sebuah tahap dalam hidup seorang anak ketika ia harus meninggalkan rumah, seperti pergi merantau; dilepaskan ke rumah mertua, dll. Namun, dalam hal ini, waktu sampai adalah prosesi “turun tanah”, yaitu dilepas dari pangkuan ke tanah)
Dari pelukan diturunkan dari pangkuan (ke tanah. Inilah penjelasan proses waktu sampai di atas. Adapun proses pelepasan tersebut)
Serupa benih yang ditabur di persemaian (yakni, perbandingan perihal “pelepasan”. Bahwa melepas anak dari pangkuan ke tanah itu sama seperti yang dilakukan para petani dalam melepas benih, menanam, melepasnya ke tanah)
Sebelum tumbuh sendiri pada sebuah pilihan (penjelasan waktu bahwa pada tahapan ini, gagasan “melepas” datang dari orangtua, bukan dari anak sendiri. Sebeb itulah penyair menggunakan kata pasif; ‘dilepaskan’)

Hari ini engkau belajar duduk dan berdiri (yakni di hari turun tanah)
Menapakkan kaki, meraih mainan (menapak kaki adalah memulai langkah pertama, belajar berjalan, karena di hari turun tanah, hari di mana anak mulai menginjak tanah di saat sebelumnya hanya berada di dalam gendongan, adalah hari mula-mula ia belajar melangkah/menapak. Ia pun mulai mengenal dan menyukai mainan)
Dengan tangan kanan (penyair menyelipkan pelajaran tatakrama di sini, yakni tangan kanan yang selalu diidentifikasi sebagai salah satu langkah baik. Tradisi Jawa yang sangat kental dan penuh petitih tentu saja sebagiannya bersumber dari ajaran Islam (dan mungkin saja dalam ajaran/tradisi yang lain) yang mengajarkan agar selalu memulai sesuatu yang baik “dari yang kanan”. Tentu, penyebutan tangan kanan di sini bukan dimaksudkan berhadapan secara frontal dengan orang kidal. Ia hanya simbol semata-mata. Pasalnya, anak kecil yang belum mampu menyampaikan gagasannya melalui wicara, umumnya mereka menyampaikan isyaratnya melalui bahasa tubuh. Dan tangan adalah perwakilan bahasa tubuh yang paling utama dan pertama) untuk memiliki
Dirusak,  dan dimengerti (penyair menggunakan kata aktif untuk memiliki namun menggunakan kata pasif untuk “dirusak” dan “dimengerti”. Boleh jadi, penyair menghendaki sifat aktif karena berdasarkan hasrat, sementara yang pasif cenderung bersifat instinktif).

Maka, mereka pun (orangtua dan sanak kerabat serta orang-orang yang berada di dalam acara turun tanah tersebut) bersorak ketika pensil buku (salah satu barang yang disediakan di atas nampan menjadi barang pertama yang dipegang si anak. Orangtua menafsir tindakan itu sebagai langkah yang baik)
Menggantikan air susu ibu (yang artinya, si anak mulai menemukan dunia yang baru, bukan sekadar dunia yang selama ini dijalaninya, yaitu hari-hari di dalam gendongan sang ibu), tak ada tangis (bagian ini mengacu khusus kepada si anak yang disebut penyair di dalam puisi, bukan mengacu umum. Sebab, menangis atau tidak itu bergantung anaknya, yang artinya, tidak setiap anak bisa tenang saat menjalani proses turun tanah, karena terkadang ada juga yang menangis)
Ketika jatuh menerobos kurungan ayam (sebagaimana diketahui, salah satu  bagian dari upacara turun tanah di dalam tradisi Jawa itu adalah dengan memasukkan anak ke dalam sebuah kurungan [yang mirip kurung ayam] dan—konon—kurungan itu justru dianggap sebagai simbol “dunia baru”. Jadi, kurungan tidak dimaknai “tawanan”. Bagi orang yang memiliki tradisi non-Jawa, baris ini tentu membingungkan, bahkan sangat mungkin dapat dicitrakan buruk karena menganggap posisi anak sejajar dengan ayam atau bahkan salah satu simbol kungkungan. Dalam tradisi berbeda, seperti di sebagian Madura, upacara turun tanah tidak menggunakan simbolisasi kurungan, hanya bubur dan beberapa bagian lain yang relatif sama)
Seperti paham langkahmu bakal menuju ke depan (penyair menduga—lebih tepatnya berharap—agar si anak sudah dapat memperkirakan dan mengarahkan langkah hidupnya di masa yang akan datang melalui pralambang dalam upacara ini)

Keluarlah anakku, dari kurungan demi kurungan itu (nah, pada bagian inilah penyair Iman justru menunjukkan sesuatu yang berbeda: memahami kurungan dengan sudut pandang denotasi, yakni kurungan yang sesungguhnya, tidak memahaminya sebagai “dunia baru” sebagimana terjadi pada bait sebelumnya. Ia meminta si anak agar melepaskan diri dari kurungan yang mengangkanginya, kurungan yang akan membuat dunianya menjadi terbatas. Penyair—yang dalam puisi ini mengambil peran sebagai seorang ayah—menunjukkan rasa yakin dan tanpa adanya keraguan, bahwa si anak akan mampu menjalaninya dengan)
Berbekal azimat di tanganmu (azimat merupakan simbol kekuatan spiritual, supra; simbol dari tekad kuat dan itikad baik (di dalam diri). Azimat dalam makna sesungguhnya lazimnya tidak dipegang, melainkan dikalungkan atau disabukkan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan lanjutan) ada kiblat (yakni “arah menuju”, seperti mercusuar bagi nelayan)
Bakal menunjukkan tempat (yang benar)
Di mana seharusnya engkau berguru (dan inilah intinya. Bahwa setelah anak memasuki babak baru [menginjak tanah; mulai melangkah; menjalani tapak kehidupan] dari sekian banyak tahapan di dalam hidup, maka pesan yang paling mula disampaikan sang ayah adalah “kiblat tempat berguru”. Bahwa berguru kepada orang yang tepat (ahli) mestinya menjadi harapan pertama ayah kepada anaknya, ide awal yang harus ditancapkan ketika anak hendak melangkah. Sebab, tidak sedikit sekarang: mereka yang gara-gara salah memilih guru, akhirnya tidak tahu kiblat, merasa berjalan lurus dan tepat, namun sayangnya hanya dalam pemahamannya sendiri, alias merasa benar dalam keadaan tersesat. Pesan “mencari guru yang benar” di “upacara turun tanah” merupakan dua hal yang saat ini mulai jarang ada yang memperhatikan).

Wallahu a’lam

(M. Faizi, admin/penafsir)


2010

sampul buku: